Cantik, otentik, eksotik. Tiga kata itu pantas disandang Santorini. Tak hanya itu, terpilihnya pulau di Yunani itu sebagai salah satu destinasi paling diimpikan para pengantin baru atau pasangan kekasih
membuatnya lekat dengan suasana romantis. Dengan jejeran rumah serta hotel berwarna putih di sisi tebing, ditambah pemandangan lapang lautan Aegean nan biru pekat, siapa pun akan betah berada di sana.
Mungil nan Senantiasa Hidup
Santorini menyediakan banyak pilihan untuk menjamu pengunjungnya. tetapi ia rupanya ingin tampil lebih bersahaja dengan member peluang bagi warganya untuk menyajikan cita rasa serta sentuhan lokal. Jangan bayangkan Anda akan menemukan gedung-gedung bertingkat, mal, atau monument modern tinggi menjulang. Tak ada McDonalds, Pizza Hut, maupun Starbucks di sana. Demikian pun kedigdayaan nama besar hotel, seperti Hilton, Hyatt, Westin, atau Ritz-Carlton tidak diinginkan untuk hadir disini. Kemewahan justru datang dari sentuhan-sentuhan lokal. Otentitasnya kuat.
Tempat pertama yang lazim didatangi adalah Fira. Berpredikat sebagai pusat kota Santorini, Fira menjanjikan pemandangan indah juga keleluasaan berekplorasi, baik makanan, akomodasi, maupun hiburan siang-malam. Anda tidak perlu naik-turun kendaraan sebab kota tersebut terbilang mungil saja, bahkan beberapa desa lebih besar dari Fira. Meskipun kecil, suasananya senantiasa hidup. Mungkin Anda membutuhkan sedikit pemanasan kaki sebelum menelusurinya. Maklum, Fira berada di kemiringan dengan lorong-lorong yang hanya memiliki lebar satu meter juga anak tangga di mana-mana.
Godaan paling besar bagi siapa pun yang baru tiba di Fira biasanya ingin cepat-cepat menuju ke sisi Kaldera. Namun, Anda tak perlu terburu-buru. Setibanya di stasiun bus, menyeberanglah ke Archaeological Museum yang tepat berada di pinggir jalan raya. Jika belum melewati pukul 15.00, bayarlah karcis sebesar 3 Euro untuk melongok isi museum. Koleksinya pun cukup beragam, di antaranya ada artefak kuno yang sempat ditemukan pada reruntuhan kuil di Santorini, termasuk berbagai fresko menawan dari masa Heleanistik. Ruang museum pun tertata dengan baik sekali, meskipun sekilas dari luar bangunannya terkesan biasa saja.
Katedral Ypapanti menjadi bangunan menarik selanjutnya setelah Archaelogical Museum; letaknya langsung di sebelah kanan. Itulah pusat ibadah utama warga Santorini—seperti orang Yunani lainnya—yang mayoritas memeluk agama Kristen Orthodoks. Di Fira, selain katedral, warga juga terbiasa menyebut beberapa gereja dengan panggilan unik, Metamorphosis. Alasannya, bangunan-bangunan itu umurnya baru setengah abad sehingga dianggap sebagai metamorfosa dari bangunan lama yang rusak oleh gempa bumi pada 1956. Pintu masuk katedral pun langsung menghadap Kaldera. Jadi, sesampainya di sana, Anda akan terpesona oleh pemandangan di depannya. Nikmatilah sepuas hati, lalu teruskan dengan melongok isi dalam katedral yang syahdu serta kental nuansa Orthodoks. Meskipun dihiasi lukisan indah, pengunjung tidak dipungut bayaran dan boleh memotret.
Lepas dari katedral, silakan Anda memilih untuk berbaur dengan keramaian turis yang senantiasa memadati area sebelah kanan katedral atau ingin merasakan waktu sendiri dengan menikmati keindahan panorama di sebelah kiri katedral tanpa harus berdesak-desakan. Jika Anda memilih sebelah kiri, artinya kaki Anda nantinya bergerak ke arah Hotel Atlantis. Lorong sempit bertangga menuntun Anda hingga mencapai beberapa villa maupun hotel cantik. Hotel Atlantis merupakan hotel pertama di Santorini. Seturut namanya, dahulu, penginapan itu dibangun guna mengakomodasi para peneliti dan turis yang penasaran dengan legenda benua Atlantis. Anda sudah pernah mendengar legenda itu, bukan? Santorini memang sering diusung sebagai sisa benua yang lenyap secara mendadak.
Denyut Fira sebagai tujuan turistik kental terasa ketika berada di sisi kanan katedral Ypapanti. Di gang-gang sempitnya, berdiri megah puluhan galeri seni, kios cenderamata, butik, museum, gereja, biara, snack & co_ee shop, kafe, restoran, hingga klub malam. Jangan lewatkan Gold Street, lantaran di tempat itu, berdiri toko-toko perhiasan. Alih-alih kumuh, gang-gang sempit itu justru luar biasa bersih dengan dominasi tembok bercat putih yang diselingi warna-warni yang suci dari kotoran. Kepedulian orangorang terhadap keindahan dan kebersihan lingkungannya tak pelak menerbitkan rasa nyaman juga kagum.
Teruskan perjalanan ke utara sampai Anda masuk ke bagian kota yang bernama Firostefani dan Imerovigli. Di sana, jalanan mulai agak mendaki dengan suasana lebih sejuk karena wilayah itu dipenuhi oleh berbagai vila juga suite bagi para pengantin baru. Kedua lokasi itu menjanjikan pemandangan yang lebih bagus lagi lantaran posisinya yang lebih tinggi. Firostefani menghadap ke selatan, ke bagian kota yang sebelumnya sudah Anda telusuri, sedangkan Imerovigli menghadap ke utara. Puas berjalan kaki menelusuri gang-gang sempit maupun lorong di tepian kalderanya, barang kali Anda berminat mencoba cara lain yang juga tidak kalah asyik, yakni menaiki Cable Car dan menunggang keledai. Kedua sarana itu mengantar Anda menuruni tebing setinggi 220 meter ke pelabuhan tua Limani Skala.
Dalam satu tabung kaca Cable Car yang mampu ditempati tiga orang, Anda bersiap memakan waktu tiga menit. Untuk sekali perjalanan, Anda cukup merogoh 4 Euro. Lain lagi bila menunggang keledai. Berukuran lebih kecil dari kuda, mereka hanya boleh ditunggangi maksimal dua orang. Namun, lamanya waktu dalam sekali trip dapat mencapai dua puluh menit. Jantung pun berdebar manakala sang kedelai mulai merayapi lika-liku rute ditimpali pemandangan spektakuler yang terpapar di depan mata.
Bertandang ke Desa Unik
Untuk mengenal Santorini, tak cukup hanya di Fira saja. Meski panjangnya terbilang sejauh area Jakarta hingga Cikampek, tetapi yang dapat dilihat dari pulau berbentuk embrio bayi itu lumayan atraktif. Kecantikan Santorini sesungguhnya terletak di desa-desa tuanya. Yang berada paling utara dan paling tersohor adalah desa Oia. Desa yang konon dibangun oleh para kapten dan pelaut itu bisa jadi adalah maskot Santorini. Pasalnya, hampir semua foto terindah yang beredar di seantero dunia dijepret di sana. Anda akan tergoda untuk berdiri di bawah bayang-bayang kincir anginnya atau ikut bertepuk tangan bersama pengunjung lain menghantar perginya matahari dari atas puing reruntuhan sebuah kastil yang terletak langsung di bibir kaldera.
Lantaran pada masa silam para kapten dan pelaut merupakan golongan orang berada, maka banyak sekali rumah indah dibuat di Oia. Tak segan-segan mereka mengorek tebing untuk menciptakan ruang-ruang kamar yang sejuk, memadukan gaya purba dengan sentuhan renaissance atau neoclassic yang mereka bawah pengaruhnya dari perjalanan mengarungi perairan Mediterania ke Alexandria hingga Rusia. Sejumlah rumah itu kini berubah menjadi restoran dan vila. Oia kental dengan nuansa religius, terbukti dari banyaknya gereja. Apalagi, penganut Kristen Orthodoks punya kebiasaan membangun gereja kecil semacam kapel pribadi yang menyatu dengan rumah mereka.
Di Oia, para kapten dan pelaut zaman dulu mendirikan gereja sebagai wujud syukur atas keselamatan di laut. Konon, banyak benda suci, seperti patung dan lukisan, mereka bawa dari berbagai tempat. Salah satu patung yang disakralkan di Oia adalah patung Santa Maria yang dibawa dari Pulau Kreta. Patung itu selalu luput dari kerusakan yang diakibatkan oleh gempa bumi, padahal ditempatkan di tebing. Katanya pula, ia sering berpindah ke tempat-tempat tinggi yang menghadap ke Pulau Kreta. Kini, patungnya ditahtakan dalam altar gereja Panagia Platsani di alun-alun desa.
Selain Oia, ada desa unik lain bernama Pyrgos. Tidak jauh dari Fira, hanya 8 km ke arah tenggara, Anda sudah bisa menemukan desa tempat rumah-rumah tersebar bagai tumpahan susu mengitari bukit kerucut setinggi 360 meter. Ukurannya yang lebih besar dari Fira bukanlah tanpa alasan karena Pyrgos dari abad ke-16 hingga abad ke-19 merupakan pusat Santorini. Pyrgos dipilih sebagai tempat bermukim lantaran letaknya di tengah pulau dan berada di ketinggian, terasa strategis juga aman.
Faktor keamanan memang penting pada masa itu karena Santorini acap kali menjadi pulau yang disinggahi para perompak. Anda juga akan menemukan sisa benteng pertahanan di Pyrgos. Secara keseluruhan, terdapat lima benteng di Santorini, tetapi kebanyakan sudah runtuh oleh gempa bumi. Pyrgos pun penuh dengan gereja-gereja putih berkubah biru, malah disebut sebagai yang paling banyak di Santorini. Anehnya, puluhan gereja itu hanya dipakai untuk perayaan khusus, sedangkan untuk ibadah kesehariannya, penduduk menggunakan sebuah gereja yang letaknya agak jauh tersembunyi. Yang istimewa dari Pyrgos adalah perayaan Trihari Suci sebelum hari Minggu Paskah. Pada malam Jumat Agung, penduduk biasanya akan menyalakan lilin. Listrik tidak digunakan sebagai penerang.
Alhasil, desa itu pun berubah menjadi bukit penuh cahaya lilin. Sungguh indah. Satu hal yang turut mempopularkan nama Santorini— terutama di kalangan jet set—adalah Assyrtiko. Itu bukan nama desa, tetapi nama satu jenis anggur putih yang menjadi ciri khasnya Santorini. Nah, pengolahan Assyrtiko menjadi minuman berkelas dunia dilakukan oleh penduduk sebuah desa elok bernama Megalochori. Di desa yang berjarak kira-kira 2 km dari Pyrgos itu, Anda akan berkenalan dengan berbagai merek anggur terkenal, seperti Antonio, Boutari, serta Gavalas.
Anggur Assyrtiko memiliki aroma citrus. Selain itu, rasanya juga khas, disinyalir berasal dari kandungan mineral vulkanis. Belakangan, Assyrtiko dibudidayakan di banyak wilayah Yunani, beberapa ada yang mengawinsilangkannya dengan varietas anggur lain. Cobalah untuk mencicipinya di warung tradisional atau membeli yang sudah dikemas dalam botol.
Warga Megalochori umumnya bekerja sebagai petani dan kebanyakan menghabiskan hari mereka di ladang atau bekerja di tempat-tempat pengolahan anggur. Uniknya, meskipun petani, mereka memiliki rumah-rumah yang tidak kalah bagus dengan desa lain. Biasanya, rumah-rumah indah itu disewakan setiap musim panas datang, saat biasanya jumlah turis melonjak dan harga kamar hotel berlipat ganda.
Pemandangan khas yang kerap Anda lihat di sana adalah tembok-tembok disisipi dengan bebatuan hitam dari lahar yang membeku. Lalu, ada pula dekorasi rumah berupa rangkaian bundar ranting anggur kering. Megalochori memang kecil, tetapi memiliki resor berbintang yang digemari selebriti, Vadema Resort. Konon, Angelina Jolie, Brad Pitt, Heidi Klum, Pangeran William, dan Kate Middelton pernah menjadi tamu tetapnya. Seandainya masih penasaran untuk melihat benteng pertahanan yang masih utuh, Anda sepatutnya melanjutkan trip dengan mengunjungi Desa Emporio. Itulah desa terbesar di Santorini dan dulunya menjadi sentra berniaga penduduk Santorini. Dari aktivitas itulah, terlahir nama desa itu,
Emporio. Menurut kosa kata Yunani, artinya ‘pusat perdagangan’. Benteng yang dinamakan Kasteli tersebut dulunya selain berfungsi sebagai benteng pertahanan, juga kerap dipakai sebagai pusat negosiasi jual-beli barang di Emporio. Saat menjumpai bangunan berdinding cokelat tebal itu, Anda akan “diajak” untuk berfantasi tentang perihal hirukpikuk manusia zaman dulu dalam berdagang. Suasana itu semakin terasa bila Anda mulai memasuki terowongan yang menghubungkan rumah-rumah di luar benteng dengan rumah-rumah yang ada di dalam benteng. Bayangkanlah kehidupan makmur orang-orang yang hidup pada masa itu. Pastikan juga kunjungan Anda ke Bukit Gavrillou. Pada musim semi, pastikan untuk singgah ke sana karena biasanya akan dipenuhi dengan bunga popi berwarna oranye kemerahaan yang memanjakan mata dengan latar perbukitan kapur juga rumahrumah putih.
Tentu saja, belum lengkap pergi ke Santorini tanpa menyantap hidangan laut. Tempat paling tepat untuk hal itu tak lain tak bukan adalah Desa Vlichada. Boleh saja restoran di desa lain mengklaim sanggup menawarkan hidangan serupa, tetapi Vlichada berbeda. Ia satu-satunya desa nelayan yang masih aktif sekaligus penyuplai ikan segar paling utama di Santorini. Untuk mencapai Vlichada, Anda tinggal bergerak ke pantai utara, sekitar 4 km dari Emporio. Produk laut andalan Vlichada, yaitu kerang, gurita, dan sardin. Anda langsung menemukan atmosfer yang lain seiring munculnya satu per satu Taverna atau rumah makan lokal di sepanjang pantainya. Khas Santorini, dengan warna biru putih, taverna-tavernanya memberikan kesan teduh. Sejumlah nama, sebut saja Captain Yianis, Dimitris,
Limanaki, Paradisos, merupakan taverna yang popular karena menampilkan kebersahajaan Santorini. Satu hal baru mungkin bagi Anda saat mengetahui bahwa taverna-taverna di Santorini punya kebiasaan menggunakan oil paper sebagai taplak meja. Akhiri kunjungan Anda di Vlichada dengan menjenguk pelabuhan nelayannya yang imut berikut artistik, Limanaki. Susuri sisi pantainya ke kanan, Anda akan terpesona dengan tebing-tebing berwarna cokelat kemerahan dengan kontur-kontur aneh mirip satu sisi canyon.
Menelisik Peradaban Kuno
Membicarakan Yunani pastinya juga bicara tentang kehebatan peradabaan masa silam negeri itu. Pengaruhnya menyebar ke seantero dunia, seperti sistem tata negara, politik, demokrasi, filsafat, dan seni. Bukti-bukti—seperti situs kota kuno, kuil-kuil, dan patung para dewa—tersebar di berbagai wilayah Yunani. Di Santorini yang notabene telah berulang kali dihantam gempa bumi pun, Anda masih bisa menemukan wajah kota tuanya.
Meskipun dalam rupa yang sudah tak utuh lagi, tetapi dua kota tua Santorini sanggup membawa Anda kembali pada masa lalu. Lokasi pertama yakni Desa Akrotiri. Letaknya di selatan, hanya butuh waktu 30 menit dari Desa Megalochori dan tak jauh juga dari pantai yang cukup terkenal, Red Beach. Syahdan, pada abad ke- 17 sebelum Masehi, di Akrotiri, hiduplah masyarakat kuno Minoan. Situs yang ada sekarang digali oleh para arkelog setelah terkubur dalam tanah selama 3.500 tahun akibat sapuan debu letusan gunung berapi. Dari dokumen serta lukisan tua milik masyarakat Minoan, diketahuilah bahwa pulau itu dulunya berbentuk bulat dan mereka menamakannya Stroggili. Lokasi kota tua yang kedua adalah Ancient Thera dan terletak di atas Gunung Mesa Vuono.
Berposisi di sebelah barat, gunung setinggi 396 meter itu mudah saja dicapai titik puncaknya. Pilihlah untuk ber-hiking ketimbang berkendaraan demi lebih merasakan sensasi kepurbakalaan. Pukul 08.00, akses menuju Ancient Thera biasanya sudah dibuka. Aura kekunoannya sudah terasa semenjak Anda menapaki langkah-langkah pertama. Formasi jalan berkelok dan tatakan batu mengikuti keadaan zaman dulu, demikian pun rimbunan pohon pinus di sisi jalan serta bentangan laut luas di kiri gunung. Sungguh mirip setting film-film kolosal Yunani atau Romawi. Gunung Mesa Vuono memisahkan dua pantai terkenal, yaitu Kamari dan Perissa. Nah, sesampainya di atas gunung dan membayar karcis seharga 4 Euro, Anda bebas mengamati areal kota tua.
Ancient Thera mengalami percampuran beberapa budaya besar, yaitu Helenistis, Romawi, dan Byzantin. Hal itu kelihatan dari bentuk tata kota, kuil, juga benda-benda peninggalan. Dengan pengamatan seksama, di antara tebaran puing-puing, Anda dapat temukan simbol-simbol pemujaan, semisal singa (Dewa Appolo), elang (Dewa Zeus), atau lumba-lumba (Dewa Poseidon).
Petualangan Gastronomi
Selain karena pemandangan juga arsitektur putih-birunya, keromantisan di pulau bernama lain Thira tersebut pun disokong oleh tebaran restoran dengan sajian kuliner menggoda lidah. Salad Yunani dengan komposisi taburan potongan keju kambing feta, kacang fava, mentimun katsouni, dan cherry tomato telah diakui sebagai salah satu salad tradisonal terbaik
sejagad. Itu baru hidangan pembuka, belum lagi hidangan utama sampai penutup. Dan, sekali lagi, jangan lupakan anggurnya. Fira dan Oia merupakan lokasi dengan lereng tebing yang bertabur aneka rupa restoran. Sangat gampang menemukan tempat makan hebat dengan masakan tradisonal Yunani, Eropa, dan sajian dari berbagai Negara lain. Namun, kalau Anda mau bereksperimen dengan menu berbeda, fusion food atau masakan kontemporer misalnya, cobalah mampir ke restoran Volcano Blue di Fira, Mylos Café di Firostefani, sama Karma dan 1800 di Oia.
Tak hanya unik di lidah, penyajiannya pun nyentrik. Anda vegetarian? Jangan bingung, ada restoran elit bernama Nectar & Ambrosia di Oia yang siap melayani. Baru memijakkan kaki, Anda akan langsung jatuh cinta dengan kesan hangatnya. Atap bagian depannya dari kain, dipilahpilah seperti anyaman. Meja dan kursi dilapisi taplak putih dengan dekorasi bintang-bintang kecil keemasan. Anda perlu mereservasi terlebih dahulu, apalagi jika ingin duduk di teras dan menikmati sunset karena jumlah meja terbatas. Yang punya anggaran minim, boleh lega datang ke Santorini karena Taverna berlimpah makanan murah. Porsinya pun banyak. Restoran seperti itu biasanya berada di gang-gang sempit Fira, ramai dengan anak muda dan backpackers. Satu tempat yang lumayan ternama adalah Lucky’s Souvlakis. Pengunjung dapat melihat langsung sang koki menyiapkan makanan. Anda bakalan terpukau dengan kerja mereka yang super cepat dan tangkas.
Menjajal Hiburan Malam
Di Fira, jika Anda mau duduk santai menghirup udara malam ditemani beragam pilihan cocktail, silakan ke Franco’s Bar. Berada langsung di tepian kaldera, setiap orang yang lewat pasti langsung terpikat pada pesona benderang lampunya.
Terutama bagi yang mengagumi Mario Lanza, Grace Bumbry, Maria Callas, dan Luciano Pavarotti, tempat itu setia dengan aliran musik klasik dan opera. Jangan kaget jika berpapasan dengan pesohor atau selebriti dunia, tempat itu sudah menggenggam reputasi international. Rocker atau penggemar music rock tak harus terus manyun di pulau romantis tersebut. Tithorea Club Fira adalah tempat untuk memproklamasikan jiwa bebas Anda. Tiap Senin, biasanya dimainkan musik rock dengan selipan disco era 80-an. Sementara itu, Selasa benar-benar untuk rock.
Tithorea juga mengistimewakan para remaja dan anak sekolahan penggila metal setiap Jumat. Di luar Fira dan tempat lain yang memenuhi malam dengan dentuman musik, Anda bias ‘mengungsikan diri’ ke daerah pesisir, menonton film-film berkualitas di Kamari Open Air Cinema. Dibuat dengan gaya kasual, siapa pun dipersilakan untuk menghabiskan malamnya duduk di kursi-kursi di bawah kerlip bintang serta kepungan bungabunga bugenvil.
HOW TO GO
Reputasi sebagai pulau liburan terbaik di Eropa mendorong pelaku wisata untuk menyediakan beraneka sarana transportasi. Berdasarkan ukuran pulau yang tak seberapa, tetapi diberkahi segudang atraksi menawan, cara terbaik untuk mengekplorasi Santorini adalah dengan menyewa mobil, sepeda motor, atau Quad. Satu-satunya syarat yang harus dipenuhi adalah memiliki SIM Internasional. Di Fira, jumlah penyedia jasa rental kendaraan nyaris bisa bersaing dengan jumlah gerai penjual pulsa di tanah air. Apalagi, tak seperti kebanyakan negara Eropa, Yunani menerapkan gaya berlalu lintas yang sama dengan Indonesia, yakni berkendaraan di lajur kiri.
Bus umum terbilang nyaman dan murah. Dikelola oleh KTEL, tiket dihargai 1,4—2 Euro. Anda seyogyanya meminta informasi jadwal keberangkatan bus setelah tiba di Santorini; bisa dari hotel tempat Anda menginap atau langsung mendatangi terminal bus di pusat kota Fira. Jangan terburuburu untuk menggunakan taksi, apalagi jika hendak bepergian lebih dari 5 km. Santorini mempunyai empat anak pulau di kalderanya. Rasakan sensasi legenda Atlantis dengan berlayar menyinggahi pulaupulau dimaksud. Gunakan SMART, sebuah perusahaan wisata yang biasa mengakomodasi kegiatan
wisata mengasyikkan itu. Anda akan dijemput oleh bus mereka dari hotel ke dermaga kemudian lanjut menumpang boat. Tur di Kaldera berlangsung selama 2 jam, berhenti selama 20 menit di Pulau Thirasia. Dikenakan bayaran 13 Euro, sudah termasuk harga jemput dan antar.
DON’T’S!
Agar liburan di Santorini tidak diganggu oleh kejadian-kejadian tak diinginkan, Anda sepatutnya :
- Berhati-hati untuk tidak sampai mengotori dinding bangunan yang hamper seluruhnya berwarna putih; penduduk lokal maupun sesama wisatawan tak segan memprotes keras walau Anda tak sengaja melakukannya;
- Jangan duduk atau meletakkan kaki di kubah gereja;
- Tidak lupa membawa produk pelindung kulit dari sengatan matahari juga air minum saat bepergian;
- Menyertakan satu atau dua baju hangat karena malam hari lumayan dingin dan berangin;
- Menjaga barang bawaan Anda saat melewati ganggang sempit yang sedang ramai dikerubuti orang; walau kriminalitas sangat rendah, tetapi waspadalah saat pulau kebanjiran turis.
SEKELUMIT SANTORINI
Secara geografis, Santorini tergabung dalam kepulauan Kycladen, negara Yunani. Berjarak 200 km dari Athena, Santorini aslinya adalah pulau vulkanis setinggi 1.000 meter, meletus dahsyat pada abad-17 dan tercatat sebagai salah satu letusan paling hebat dalam sejarah dunia. Kejadian itu membuat Santorini dilekatkan dengan legenda lenyapnya Benua Atlantis yang dikisahkan filsuf Plato. Sempat mengalami perubahan nama selama 12 kali, pulau berjuluk “Surga di ketinggian 300 Meter” itu menjadi barometer pariwisata Yunani.
MENGGAPAI SANTORINI
Bandar udara Santorini bukanlah bandar udara internasional. Semua penerbangan datang dari Athena. Hanya pada musim panas dilayani penerbangan dari sejumlah negara Eropa dengan pesawat charter. Maskapai yang rutin tiap hari melayani rute Athena—Santorini adalah Olympic Airways dan Aegean Airlines, khusus musim panas ada tambahan Athens Airways. Anda bisa membeli tiket seharga mulai 100 Euro pada konter di bandara Athena atau memesannya via internet. Lama penerbangan 40—50 menit. Jarak dari bandar udara ke pusat kota Fira kira-kira 4 km.
Jika hotel Anda tak melayani penjemputan, silakan gunakan bus umum yang beroperasi tiap jam atau pilih salah satu taksi yang mangkal di halaman depan. Opsi kedua selain pesawat terbang adalah ferry. Keberangkatannya dari pelabuhan kota Piraeus, 11 km dari pusat kota Athena. Piraeus menjadi pelabuhan utama ke berbagai pulau di sekitar Yunani. Sebagian besar orang lebih memilih menggunakan ferry karena ingin mengalami sensasi perjalanan mengarungi lautan Aegean serta menyinggahi beberapa pulau kecil indah lain. Tersedia ferry biasa, Helleanic Seaways dan Blue Star Ferries, memakan waktu 6—7 jam dengan harga 30—35 Euro per penumpang. Atau, bisa juga menggunakan ferry cepat Fying Dolphins seharga 45—55 Euro per penumpang yang menghabiskan 4—5 jam. Berangkat dua kali sehari, yaitu pukul 7.30 dan pukul 17.30.
AKOMODASI
Penginapan di Santorini tersedia dalam bermacam-macam jenis, baik vila, suites, apartemen, ataupun hostel. Akomodasi yang bertengger di sepanjang sisi tebing sudah pasti umumnya elit dan mahal. Dengan iming-iming view sunset ditambah fasilitas seperti kolam renang yang menghadap kaldera, mereka rata-rata mematok harga di atas satu juta per malam.
Harga itu akan turun 25% bila Anda memesan untuk liburan low season dari Januari hingga April. Sebagai alternatif, pilihlah penginapan kelas menengah. Villa Ilios, misalnya. Bangunan dua lantai itu berada di jantung kota Fira, tak jauh dari terminal bus juga kompleks pertokoan. Memiliki kolam renang yang dapat digunakan untuk relaks setelah bertualang.
Pesisir timur Santorini, yakni sekitar Pantai Kamari dan Perissa, acap kali jadi tujuan bersenangsenang para backpacker dan kaum muda. Akibatnya, daerah itu pun lambat laun tumbuh menjadi basis akomodasi murah dan menyediakan lokasi perkemahan. Di Kamari, Anda akan menemukan Hotel Alexandra, Dilino, Narkisos, Anemones. Di Perissa, terdapat Holiday Beach Resort, Prive Suites, Hotel Perissa, Villa Maistrali. Harga bermalam di penginapanpenginapan itu tak sampai 25 Euro.













